pengembangan media dan sumber pembelajaran seni rupa PAUd
SENI RUPA
“PENGEMBANGAN MEDIA DAN SUMBER PEMBELAJARAN SENI RUPA DI PAUD”
Di Susun Oleh :
KELOMPOK III
SITI HADIDAN RENA
MUHAJIRAH AZIS
HARDIANTI
MEGAWATI
SRI WAHYUNI
RESKI
NURHIJRAH
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
KATA PENGANTAR
Bismillah rahmani rahim..
Assalamu alaikum wr.wb
Puji syukur penulis ucapkan kepada sang maha pencipta Allah SWT,yang telah memberi rahmat,karunia,hidayah serta inayah kepada kita semua. Dan juga shalawat terkirim untuk nabi pembawa pencerahan Rasulullah Muhammad SAW.
Alhamdulillah,penulis dapat menyelesaikan tugas pertama dalam bentuk Kelompok oleh mata kuliah Seni Rupa Pendidikan Anak Usia Dini dengan Judul “Pengembangan Media dan Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini''
Penulis menyadari betul,tugas ini jauh dari kata sempurna.Maka dari itu penulis menantikan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca. Dan semoga tugas ini dapat bermanfaat terutama bagi kami para penulis. Terakhir penulis mengucapkan terimah kasih banyak kepada semua pihak yang telah membantu menyelesaikan tugas ini, baik yang berupa bantuan ilmu maupun bantuan moril.
Terima kasih, Billahi fi sabililhaq fastabiqul khaerat
Wassalamu alaikum wr.wb
PENULIS
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...............................................................................................................1
DAFTAR ISI.............................................................................................................................2
BAB I. PENDAHULUAN........................................................................................................3
BAB II. PEMBAHASAN.........................................................................................................4
A. Pendidikan Dan Seni.....................................................................................................4
B. Kegiatan Belajar Mengajar............................................................................................8
C. Media Pembelajaran.....................................................................................................9
D. Teknik Seni Rupa Berdasarkan Media/ Bahan...................................................................10
BAB III. PENUTUP.................................................................................................................20
A. Kesimpulan...................................................................................................................20
B. Saran.............................................................................................................................20
DAFTAR PUSTAKA..............................................................................................................21
BAB I
PENDAHULUAN
A.LATAR BELAKANG
Seni rupa merupakan salah satu dari beberapa cabang seni yang menurut Sofyan Salam (2001:1) Menyatakan bahwa keindahannya diwujudkan melalui media garis, warna, tekstur, bidang, volume, dan ruang. Sofyan Salam menambahkan ruang lingkup seni rupa meliputi “seni gambar/lukis, seni cetak/desain grafis, seni patung, seni kerajinan/desain produk, seni bangunan/desain lingkungan”.
Seni untuk anak-anak berbeda dengan seni untuk orang dewasa karena karakter fisik maupun mentalnya berbeda. Hal ini penting diperhatikan khususnya dalam melakukan penilaian karya anak didik, supaya hasil kreasi anak tidak diukur menurut selera dan kriteria keindahan orang dewasa. Fungsi seni dalam pendidikan berbeda dengan fungsi seni dalam kerja profesional. Seni untuk pendidikan difungsikan sebagai media untuk memenuhi fungsi perkembangan anak, baik fisik maupun mental. Sedang seni dalam kerja profesional difungsikan untuk meningkatkan kemampuan bidang keahliannya secara professional.
Dalam pelaksanaan pembelajaran seni di sekolah, pengalaman belajar mencipta seni disebut sebagai pembelajaran berkarya. Sedang pengalaman persepsi, melihat, dan menghayati serta memahami seni disebut pembelajaran apresiasi. Pembelajaran berkarya seni mengandung dua aspek kompetensi, yaitu: keterampilan dan kreativitas. Di Taman Kanak-kanak kompetensi keterampilan lebih difokuskan pada pengalaman eksplorasi untuk melatih kemampuan sensorik dan motorik, bukan menjadikan anak mahir atau ahli. Sedangkan kreativitas di sini meliputi ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik yang terlihat dari produk atau hasil karya dan proses dalam bersibuk diri secara kreatif (Semiawan, Munandar, 1990: 10). Pembelajaran apresiasi disampaikan tidak hanya sebatas pengetahuan saja, namun melibatkan pengalaman mengamati, mengalami, menghayati, menikmati dan menghargai secara langsung aktivitas berolah seni.
B.RUMUSAN MASALAH
1. Menjelaskan Apa Yang Dimaksud Pendidikan Dan Seni ?
2. Menjelaskan Proses Kegiatan Belajar Mengajar
3. Apa Media Pembelajaran ?
4. Apa Saja Teknik Seni Rupa Berdasarkan Media/ Bahan?
BAB II
PEMBAHASAN
A.PENDIDIKAN DAN SENI
Dalam pembelajaran PAUD , seni adalah hal yang mendasar dalam setiap pelajaran. Kesenian dalam pembelajaran PAUD,tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya. Hal ini karena sejatinya anak menyukai keindahan,kesenangan,kegembiraan,dan seni mempunyai kapasitas untuk memenuhi kebutuhan dasar anak itu.
Dalam hal ini,tentunya yang harus digaris bawahi bahwa seni untuk anak-anak berbeda dengan seni untuk orang dewasa. Hal ini penting diperhatikan,khususnya dalam melakukan penilaian atau evaluasi karya anak-anak,agar supaya hasil kreasi anak tidak diukur menurut selera dan kriteria “keindahan”orang dewasa. Fungsi seni dalam pendidikan berbeda dengan funsi seni dalam kerja profesional . seni dalam pendidikan,lebih difungsikan sebagai media untuk memenuhi perkembangan anak,baik fisik maupun mental. Hal ini seperti yang dijelaskan Herbert Read(Kusumastuti,2009:103),bahwa pendidikan seni lebih berdimensikan sebagai “media pendidikan”yang memberikan serangkaian pengalaman estetik yang sangat besar pengaruhnya bagi perkembangan jiwa anak.
Dalam pembelajaran seni anak usia dini,pengalaman belajar mencipta seni disebut sebagai pembelajaran berkarya. Pembelajaran berkarya seni mengandung dua aspek kompetensi,yaitu keterampilan dan kreativitas. Dilembaga PAUD, keterampilan lebih difokuskan pada pengalaman eksplorasi untuk melatih kemampuan sensorik dan motorik anak,bukan untuk menjadikan anak mahir atau ahli di bidang seni. Sedangkan kreatifitas,meliputi ranah kognitif,afektif,dan psikomotorik yang terlihat dari produk atau hasil karya dan proses dalam menyibukkan diri secara kreatif.
Kehadiran seni dalam dunia pendidikan , mengisyaratkan bahwa seni mempunyai kedudukan,peran atau fungsi yang penting dalam proses pendidikan. Bahwa karena pentingnya kehadiran seni,menurut Baret seperti dikutip Rohidi (1994:74),seni seharusnya menjadi dasar pendidikan. Dengan kata lain,tanpa pendidikan seni,pendidikan tidak akan pernah utuh.
Hal senada juga diungkapkan oleh Carol Seefeldt dan Barbara A.Wasik (2008:263),bahwa kesenian dalam pendidikan anak usia dini adalah hal yang paling mendasar. Melalui seni,anak akan memandang berbuat,dan berbicara tentang karya seni ia sendiri dan orang lain. Lebih dalam lagi,Seefeldt dan Wasik menjelaskan,dengan belajar kesenian,anak-anak akan melakukan hal-hal berikut:
1. Mengungkapkan perasaan dan emosi mereka dengan cara yang aman. Mereka belajar mengendalikan emosi dan mengetahui bahwa mereka bisa mengungkapkan dan menangani perasaan yang negatif maupun yang gembira lewat tindakan positif.
2. Melakukan dan memperoleh kendali otot halus dan menguatkan koordinasi motor tangan-mata. Dengan memegang kuas gambar dan melajar mengontrol cat.krayon,gunting,dan alat-alat seni lainnya,anak-anak memperoleh keterampilan yang perlu untuk kegiatan menulis serta perasaan mengendalikan diri mereka sendiri dan dunia mereka dikemudian hari.
3. Mengembangkan kemampuan perseosi. Kesadaran akan warna,bentuk,rupa,garis,dan tekstur muncul tatkala anak-anak mengamati ini dan berusaha mengembangkannya lewat kesenian.
4. Merasa diberi kesempatan memilih dan mmecahkan masalah. Bagaimana cara membuat kaki-kaki menancap pada bentuk tanah liat? Warna apa yang saya gunakan? Pada dasarnya,membuat karya seni mendorong anak-anak melakukan banyak pilihan dan banyak keputusan.
5. Menjadi sadar akan gagasan,bahwa lewat seni,kebudayaan itu diwariskan. Melalui berkenalan dengan seni masa lampau,anak-anak dilibatkan dalam belajar sesuatu tentang asal-usul mereka dan diri mereka.
6. Mengungkapkan keberhasilan. Hal ini karena seni terbuka luas bagi pencipta seni,dan semua anak mengalami ukuran keberhasilan. Itulah sebabnya kegiatan seni cocok bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus. Terlepas dari kebutuhan fisik atau mental anak,ada media dan kegiatan seni tertentu yang dapat menjadi sarana orang mencapai keberhasilan.
7. Membuat hubungan antara seni visual dan pelajaran lain. Menurut Seefeldt dan Wasik,kesenian bisa dipadukan dengan kurikulum dan isi setiap pelajaran bisa mendapatkan bentuknya dalam kesenian.
Pernyataan serupa juga disampaikan oleh George Morrison (2012:273),dalam buku Dasar-dasar Pendidikan Anak Usia Dini,menjelaskan bahwa seni bisa dipadukan dalam berbagai pembelajaran dalam PAUD. Hal ini karena pada dasarnya anak-anak suka berpartisipasi pada aktivitas terkait seni. Dengan demikian,seharusnya guru (tenaga pendidik) memanfaatkan kecenderungan kreatif alami anak-anak tersebut,dan memberi mereka pengalaman-pengalaman baru yang mengesankan dengan belajar kesenian.
Lebih lanjut Morrison menjelaskan perpaduan seni dengan pembelajaran di PAUD tergantung pada faktor-faktor seperti waktu,kesempatan,dan materi.
Faktor pertama,yakni terkait dengan waktu. Dengan memadukan seni ke kurikulum,sejatinya guru bisa menyelesaikan masalah waktu tersebut,dengan membuat anak-anak berpartisipasi ke dalam semua kegiatan pembelajaran,sekaligus belajar membaca/menulis,matematika,sains dan ilmu sosialnya.
Berikut beberapa contoh ide,dalam memadukan seni ke berbagai bidang dalam pembelajaran PAUD.
• Membaca dan menulis. Anak-anak dapat menirukan cerita buku favorit mereka,kemudian mengilustrasikannya.
• Matematika. Anak-anak dapat menggunakan materi untuk membuat bagan atau grafik serta serta merancang dan membuat jenis wujud yang berbeda-beda. Selain itu,anak-anak juga dapat menyusun aturan untuk menggambarkan keterhubungan satu wujud dengan yang lainnya. Misalnya, anak-anak dapat meletakkan dua segitiga bersama-sama untuk embuat segiempat.
• Sains. Anak dapat menggunakan keterampilan artistik untuk menggambar dan melukis berbagai contoh siklus kehidupan organisme atau menulis dan membuat pengumuman layanan umum mengenai pentingnya kesehatan pribadi di kelas.
• Ilmu sosial. Anak dapat mempelajari dan menyanyikan banyak lagu yang populer dalam sejarah negara,atau siswa dapat mempelajari tarian rakyat dari berbagai daerah.
Faktor yang kedua adalah kesempatan. Terdapat banyak kesempatan selama tahun ajaran bagi anak untuk terlibat dalam kesenian. Sebagai misal,permainan boneka dapat digabungkan ke semua mata pelajaran dan cerita memberi banyak kesempatan bagi anak untuk terlibat lebih dalam pada permainan drama dan teater. Contohnya tentang surah nabawiyah,cerita perjalanan sahabat nabi,dan cerita tentang kebudayaan lokal yang konstruktif (membangun) kreatifitas anak. Anak dapat mengambil peran utama untuk memainkan cerita. Singkatnya,setiap unit dalam pembelajaran menyediakan kesempatan bagi seni untuk terlibat didalamnya. Oleh karena itu, anak harus didorong untuk bersemangat menjelajahi cara mengungkapkan gagasan-gagasan dengan cara artistik.
Faktor yang ketiga adalah materi. Materi sama pentingnya dengan waktu dan kesempatan. Dalam hal ini materi meliputi semua materi yang berkaitan dengan seni visual,seperti cat air,krayon,spidol,kuas dan sebagainya,sekaligus juga materi yang diperlukan untuk musik dan tarian. Contohnya,guru dapat menyediakan materi seperti DVD tarian daerah,lagu populer,dan musik instrumental. Untuk mendorong ekspresi teater,anak membutuhkan properti,seperti pakaian,topi,boneka,dan lainnya. Yang harus diperhatikan,bahwa proses”penjelajahan”seni kreatif lebih penting daripada produk yang dihasilkan.
Calon guru dan para guru yang berkecimpung dalam pergaulan dunia anak-anak, khusunya di tingkat PAUD dan SD sangat perlu memiliki pemahaman yang mendalam tentang ungkapan gambar sebagai ungkapan bahasa rupa anak. Dalam pelaksanaannya para guru yang melakukan proses pembelajaran sering mengabaikan dunia anak-anak. Teknik (metode) dan evaluasi dalam proses pembelajaran tidak dilandasi pemahamannya tentang pendidikan seni rupa anak.
Bahasan berikut ini sangat bermanfaat sebagai pengetahuan yang akan meransang para guru/calon guru dalam mempelajari bahasa rupa anak. Isi tulisan ini dikembangkan dan dikutip dari pemikiran guru besar seni rupa ITB, Prof.Dr.H. Primadi Tabrani, dan Ahli Pendidikan Seni rupa UPI, Drs. Oho Garha. Kedua buah pikiran para ahli tersebut telah ditulis dalam Jurnal Seni rupa dan Desain (2002).
1. Kreativitas Selayang Pandang
Kreativitas berkarya seni pada umumnya berada di dalam dunia anak-anak. Kreativitas merupakan salah satu potensi yang dimiliki anak yang perlu dikembangkan. Setiap anak memiliki bakat kreatif yang perlu ditinjau dari segi pendidikan. Bakat kreatif dapat dikembangkan sehingga perlu dipupuk sejak dini.
Kreativitas mempunyai beberapa ciri, antara lain kepekaan, kelancaran, keluwesan, orosinilitas, redefinisi. Kita akan melakukan beberapa eksperimen untuk mencoba memahami ciri-ciri tersebut.
2. Bentuk dan sumber imaji
Kita berpikir, belajar, melamun, membaca, dan berkomunikasi, merupakan kegiatan yang memanfaatkan imaji dalam prosesnya. Ada bentuk imaji: Praimaji, imaji konkret dan imaji abstrak (bahasa). Secara alamiah, aslinya anak berfikir dengan perpaduan kesemua bentuk dan sumber imaji. sayang sekolah-sekolah kita terlalu mementingkan bahasa (imaji abstrak), sehingga pendidikan terasa terlalu verbal. Terlalu pentingkan imaji sensasi persepsi hingga para murid lebih mempercayai ‘apa yang kita terima dari luar’ daripada pendapatnya sendiri. Terlalu pentingkah imaji memori hingga murid takut salah jika menjawabnya tidak persis seperti waktu diajarkan dulu, hingga senangnya menghafal. Seharusnya kita memanfaatkan seluruh bentuk dan sumber imaji secara terpadu, atau imaji yang peranannya lebih besar karena fungsinya untuk memadukan: imaji konkret yang memadukan sejumlah indera dan imajinasi yang memadukan sensasi persepsi dengan memori.
3. Puncak proses kreasi
Puncak proses kreasi terjadi tanpa sepenuhnya kita sadari, umumnya diambang sadar dan ketidaksadaran kita. Disaat itu kita lebih berpikir dalam rupa: praimaji semata, atau diiringi imaji konkret, terkadang diiringi secukupnya imaji abstrak (bahasa). Kegiatan menggambar anak penting untuk mengembangkan kemampuan berpikir dengan rupa (membayangkan) yang bersama kemampuan berpikir dengan kata (yang berkembang belakangan) akan memperlancar proses kreasi kelak di bidang apapun kita bekerja.
4. Komunikasi luar dan komunikasi dalam
Proses belajar sebagai proses komunikasi memiliki aspek komunikasi luar dan komunikasi dalam. Komunikasi luar terjadi diluar tubuh kita, tampak dari luar, dan telah cukup diketahui rahasianya. Komunikasi dalam terjadi di dalam diri kita, tidak tampak dari luar, bahkan kita sendiri sering tidak menyadarinya sebab memang terjadi di ambang dan ketidaksadaran kita, baru belakngan ini rahasianya perlahan-lahan terungkap. Menyatakan pikiran merupakan komunikasi luar dan perlu sadar, rasional, logis, objektif karena perlu dimengerti orang lain. Proses belajar merupakan komunikasi dalam yang teruntuk diri sendiri dimana perasaan, imajinasi, intuisi memegang peranan penting. Oleh sebab itu perlu dibedakan antara menyatakan pikiran dengan berpikir. Memaksakan berpikir yang merupakan komunikasi dalam itu hanya boleh rasional logis saja, menyebabkan yang bekerja hanya kesadaran, sedang proses kreasi umumnya terjadi dalam ambang dan ketidaksadaran. Dalam jangka panjang ini akan mematikan kreativitas anak didik.
5. Limas citra manusia
Limas citra manusia terbentuk dari aneka kemampuan: fisik-kreatif-rasio-imajinasi-perasaan gerak. Taka ada dua orang yang lima citra manusia persis sama. Dikenal respon correctness, yaitu saat rasio (belahan otak kiri) lebih banyak bekerja dengan hanya satu jawaban yang benar. Respon goodness, yaitu sang kreativitas (belahan otak kanan) yang lebih banyak bekerja, dengan sejumlah kemungkinan jawaban yang sama bagusnya.
B. Kegiatan belajar mengajar
Pada kegiatan ini tidak banyak hal yang harus dibahas, namun yang penting penekanan pembelajaran terletak pada anak-anak(siswa).Keaktifan siswa dikelas, baik dalam berkarya maupun mengapresiasi karya seni menjadi target menjadi target pengajaran kita. Kegiatan belajar mengajar hendaklah berorientasi pada anak-anak yang belajar. Guru hanyalah sebagai pembimbing dan penuntun kegiatan bermain anak-anak. Atau guru berperan sebagai pemancing daya cipta/ide/inspirasi berkarya. Sehingga secara umum guru bertugas menciptakan iklim belajar yang kreatif dan memberikan kepuasan batin pada semua anak.
C.Media Pengajaran
Media Pengajaran adalah unsur penting dalam membantu pembelajaran anak-anak. Keberhasilan belajar anak-anak ditentukan pula oleh daya guna media pengajaran. Karena itulah media pengajaran harus menjadi pemikiran pendamping dalam proses pembelajaran di dalam kelas, dan bahkan dituliskan dalam perencanaan pengajaran.
Banyak para ahli yang mendefinisikan media pengajaran. Gagne (1970) menyatakan bahwa media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar, sedangkan Broggs (1970) berpendapat bahwa media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar. Agak berbeda dengan dua pendapat diatas Asosiasi Pendidikan Nasional membatasi media sebagai bentuk-bentuk komunikasi, baik cetakan maupun audio visual serta peralatannya. Media hendaknya dapat dimanipulasi, dapat dilihat, didengar, dan dibaca.
Adapun batasan yang dikemukakan para ahli diatas, sebenarnya memiliki persamaan pendapat, yaitu bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima yang dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat anak-anak sehinggaproses belajar terjadi.
Pengalaman langsung merupakan media yang paling berharga dan paling baik, sebab pengalaman langsung dapat memberikan rangsangan yang lengkap dan kongkret. Pengalaman verbal merupakan media yang kurang menarik bagi anak-anak SD sebab bahasa verbal menciptakan proses pemahaman abstrak. Kemampuan anak-anak SD dalam berpikir abstrak masih terbatas.
Media pengajaran adalah alat bantu yang dapat membantu proses belajar mengajar, oleh karena itu memilih media harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut (Sudjana,1991) :
1. Ketepatannya dengan tujuan pengajaran.
2. Dunkungan terhadap isi bahan pengajaran.
3. Kemudian memperoleh media.
4. Keterampilan guru dalam menggunakannya.
5. Tersedia waktu untuk menggunakannya.
6. Sesuai dengan taraf berfikir siswa.
Dalam pendidikan seni budaya dan prakarya, alat-alat dan bahan untuk berkarya kerajinan dan berkarya seni rupa merupakan media yang mutlak diperlukan, baik sebagai contoh, alat bantu demonstrasi maupun alat/bahan bereksperimen anak-anak. Misalnya dalam pokok bahasan membentuk dari bahan tanah liat.
D.Teknik Seni Rupa Berdasarkan Media/ Bahan
a. Mewarnai teknik kering
Kelebihan pastel terletak pada keunikan yang ditimbulkan, kemampuannya untuk dicampur dengan pewarna lain, sehingga hasil akhir objek yang digambar lebih hidup dan menimbulkan efek improvisasi pewarnaan yang dinamis. Peralatan yang digunakan berupa pastel yang berkualitas baik (pastel yang lunak dan efek warnanya pekat). Teknik menggambar dengan pastel dapat dilakukan dengan cara dipilin memutar atau dengan jalan menarik garis secara berulang-ulang. Pencampuran warnanya dilakukan dengan menimpa warna terdahulu dengan warna baru secara berulang-ulang sehingga efek warna yang diinginkan tercapai.
Cara mewarnai objek gambar dengan pastel/ crayon ( oil pastel ):
1. Siapkan kertas gambar berukururan A4.
2. Warnai objek dengan warna yang dikehendaki
3. Pilih warna sesuai objek, agar hasil sesuai yang diharapkan
4. Tetapi untuk anak usia dini, biar mereka mengeksplor kemampuan sesuai dengan daya imajinasinya.
Jangan takut dengan degradasi warna yang di ingin dicoba, karena warna degradasi akan mempercantik hasil pewarnaan.
b. Teknik lipat
Teknik lipat adalah metode yang caranya melipat kertas gambar yang telah diberi cat air terlebih dahulu.
Langkah-langkah pembuatan gambar :
1. Siapkan kertas gambar berukuran A3.
2. Kedua, buka kemasan cat air terlebih dahulu jika cat air baru. Kemudian buka cat air yang berbentuk pasta dengan tutupnya.
3. Pilih warna yang berlawanan (warna yang terang dan warna gelap).
4. Lipat kertas gambar terlebih dahulu sebelum digunakan, tepat pada posisi tengah kertas gambar.
5. Kemudian, keluarkan warna yang diinginkan dan tekan sampai tinta warna keluar.
6. Letakkan cat warna disekitar posisi tengah lipatan kertas.
7. Setelah cukup, lipat kertas dan tekan cat warna ke berbagai arah yang diinginkan.
8. Jangan terlalu lama melipat dan menekan kertas gambar, karena dapat merusak hasilnya,akibat dari cat warna yang cepat kering.
9. Lakukan berulang-ulang sesuai dengan keinginan.
c. Teknik finger painting
Menurut Wtarsono ( 2009), Finger Painting adalah melukis dengan jari, untuk melatih pengembangan imajinasi, memperhalus kemampuan motorik halus, dan mengasah bakat seni, khususnya seni rupa. Goresan jari- jemari yang menghasilkan sebuah karya lukisan abstrak yang penuh warna.
Bahan dan alat :
1.Pewarna, bisa menggunakan cat air atau pewarna (teres)
2.Air
3.Lem fox
4.Kuas untuk mencampur warna
5.Tempat pewarna
6. Kertas HVS/ Kertas gambar
Langkah-langkah menggambar dengan teknik fingerpainting :
1. Siapkan kertas gambar, adonan warna dan alas kerja
2. Goreskan adonan warna tersebut dengan jari secara langsung sehingga menghasilkan jejak jari tangan dengan bebas sampai membentuk kesan goresan jari di bidang gambar.
3. Agar hasil goresan lebih baik buatlah variasi goresan tebal tipis, panjang pendek serta kombinasi warna.
d. Teknik tiup
Metode tiup merupakan salah satu cara penggunaan cat air dengan cara meniup agar supaya memperoleh bentuk yang diinginkan. Metode ini sedikit memerlukan tenaga, karena harus meniup cat warna untuk menghasilkan bentuk.
Langkah-langkah menggambar dengan metode tiup :
1. Siapkan kertas A3, cat warna, palet, air dan sedotan.
2. Keluarkan cat dari pasta dan letakkan di palet.
3. Pilih warna-warna yang menarik.
4. Setelah di rasa cukup, campur cat dengan air secukupnya.
5. Aduk hingga tercampur semua.
6.Ambil sedotan untuk mengambil cat yang telah dicampur air di palet untuk diteteskan di kertas gambar.
7. Setelah diteteskan, kemudian langsung tiup tetesan warna.
8. Jangan terlalu lama karena cat akan cepat kering.
9. Lakukan berulang-ulang hingga sesuai keinginan.
e. Montase
Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, montase adalah komposisi gambar-gambar yang dihasilkan dari percampuran unsur beberapa sumber (Depdiknas 2001).
Karya montase dihasilkan dari mengeposisikan beberapa gambar yang sudah jadi dengan gambar yang sudah jadi lainnya.
Langkah-langkah membuat montase :
1. Gambar buah dari majalah kemudian dipotong yang hanya diambil Gambar buahnya saja.
2. kemudian ditempelkan pada permukaan alas gambar. Ini merupakan salah satu contoh sederhana dari karya montase.
f. Teknik goresan krayon
Teknik goresan dengan menggunakkan krayon ini teknik yang sangat mudah untuk anak usia dini untuk mengenal kan campuran warna-warna yang berbagai macam warnanya sehingga anak sangat suka karena tidak ada batasan dalam menggores sehingga anak dapat leluasa dalam menggunakan kroyon. Berikut cara membuatnya :
Alat dan bahan :
1. Kertas gambar A4.
2. Krayon.
3. Penggaris kecil atau bahan yang bisa untuk menggores
Cara pembuatannya :
1. Gunakan buku gambar ukuran A4.
2. Lalu gunakan krayon dengan berbagai macam warna sesuka hati anda.
3. Goreskan krayon hingga menutupi warna putih pada buku gambar.
4. Setelah penuh, gambar pemandangan atau pegunungan sesuka hati dengan menggoreskan sisi dari penggaris lalu akan tampak gambar yang anda inginkan.
5. Teknik gambar ini akan muncul sesuai dengan keinginan anda.
g. Teknik tetes
Teknik tetes adalah teknik dengan cara meneteskan cat air dengan leluasa sehingga terbentuk seperti lingkaran yang ada diatas kertas gambar.
Bahan dan alat :
1. Kertas gambar.
2. Cat air.
3. Air.
4. Palet dan kuas.
Langkah membuatnya :
1. Siapkan cat air warna primer seperti, merah, kuning, biru.
2. Lalu tuangkan cat air kedalam palet campuri dengan sedikir air lalu aduk hingga rata.
3. Kuas yang sudah ada cat air, tetes kan cat air dari jarah 30 cm dari buku gambar sehingga dapat membentuk lingkaran-lingkaran seperti gambar diatas.
h. Teknik mencetak bayangan
Mencetak merupakan suatu cara memperbanyak gambar dengan alat cetak atau acuan atau klise. Alat cetak dapat diperoleh secara sederhana atau di rencana. Dalam perkembanagan seni rupa mencetak biasa dikatakan seni grafis yakni merupakan karya dwi mantra yang dibuat untuk mencurahkan ide atau gagasan dan emosi seseorang dengan menggunakan teknik cetak, sehingga memungkinkan pelipat gandaan karyanya. Hasil cetakan menunjukkan kreatifitas keterampilan maupun keterampilan penciptanya.
Alat dan Bahan :
1. Kertas gambar
2. Pewarna (Cat warna atau pewarna makanan)
3. Siapkan yang akan dicetak
(disini menggunakan daun papaya dan daun lemtoro)
4. Sisir
5. Sikat gigi
Langkah-Langkah Membuat :
1. Siapkan kertas gambar
2. Siapkan Pewarna cat warna (agak cair)
3. Letakkan Daun pepaya diatas kertas gambar
4. Celupkan sikat gigi pada cat warna
5. Cara mencetak dengan sisir yang disikat sikat gigi dengan pewarna.
6. Setelah cat kering, daun dapat diangkat.
i. Teknik mencetak dengan pelepah pisang
Teknik mencetak adalah Memindahkan gambar keatas kertas atau bahan lainnya dengan menggunakan acuan cetak yang terbuat dari berbagai jenis bahan (mencetak dengan bahan alam).
Alat dan Bahan :
1. Pelepah daun pisang
2. Cat air / Pewarna makanan
3. Pisau / Cutter (Gunakan dengan bantuan orang dewasa)
4. Kuas (untuk mengolesi alat cetak)
Langkah-Langkah Membuat :
1. Siapkan pelepah daun pisang
2. Potong serong pelepah daun pisang menggunakan pisau sesuai keinginan
(ingin bentuk kecil atau besar)
3. Siapkan pewarna yang sudah di cairkan (agar tidak menggumpal saat di cetak)
4. Siapkan kertas gambar
5. Ambil pelepah pisang kemudian diolesi dengan pewarna yang diinginkan
6. Setelah selesai, letakkan pada kertas dengan sedikit di tekan perlahan
7. Bentuk sesuai keinginan
8. Angkat perlahan alat cetaknya
9. Biarkan kering
10.Hasil cetakan telah selesai
j. Teknik membentuk
Membentuk dengan plastisin adalah hal yang sangat disukai anak karena plastisin sangat lentur dan mudah dibentuk beaneka ragam. Dengan tema” BUAH-BUAHAN”anak akan lebih suka dan mudah mengasah perkembangan konitif pada anak usia dini.
Alat/bahan:
1. Plastisin warna-warni.
2. Pisau kater.
3. Clemek.
4. Serta tentukan tema apa yang ingin di buat.
Cara pembuatannya:
1. Pasang lah terlebih dahulu clemek, karena ini berguna agar pakaian yang kita gunakan tidak kotor terkena plastisin yang akan digunakan.
2. Pilihlah warna apa yang digunakan untuk mengkreasikan karya kita tersebut, kemudian potong jika dianggap terlalu besar.
3. Setelah dipotong, letakkan plastisin ditelapak tangan serta bulat-bulatkan plastisisn tersebut agar lentur.
4. Setelah lentur buat lah bentuk yang diinginkan sesuai dengan tema apa yang kita gunakan.
k. Teknik cipra
Teknik ciprat ini bertujuan agar warna primer yang saling bertumpuan akan berubah seperti jika warna merah bertemu dengan warna kuning anak menjadi warna hijau sehingga anak akan lebih tertarik dalam perubahan warna tersebut.
Alat dan bahan :
1. Kertas A4
2. Cat air warna primer.
3. Kuas
4. Palet
Cara membuatnya :
1. Siapkan cat air dengan warna primer seperti merah, kuning, biru.
2. Lalu masukkan cat air ke dalam palet dan siapkan air secukupnya untuk mencampur cat air dengan air.
3. Lalu gunakan kuas dan lalu ciprat kan ke dalam kertas gambar, sehingga ada percampuran antara merah dengan biru akan menjadi ungu.
BAB III
PENUTUP
A.KESIMPULAN
Seni adalah hal yang mendasar dalam setiap pelajaran. Kesenian dalam pembelajaran PAUD,tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya. Hal ini karena sejatinya anak menyukai keindahan,kesenangan,kegembiraan,dan seni mempunyai kapasitas untuk memenuhi kebutuhan dasar anak itu.
Dalam hal ini,tentunya yang harus digaris bawahi bahwa seni untuk anak-anak berbeda dengan seni untuk orang dewasa. Hal ini penting diperhatikan,khususnya dalam melakukan penilaian atau evaluasi karya anak-anak,agar supaya hasil kreasi anak tidak diukur menurut selera dan kriteria “keindahan”orang dewasa. Fungsi seni dalam pendidikan berbeda dengan funsi seni dalam kerja profesional . seni dalam pendidikan,lebih difungsikan sebagai media untuk memenuhi perkembangan anak,baik fisik maupun mental. pendidikan seni lebih berdimensikan sebagai “media pendidikan”yang memberikan serangkaian pengalaman estetik yang sangat besar pengaruhnya bagi perkembangan jiwa anak.
Dalam pembelajaran seni anak usia dini,pengalaman belajar mencipta seni disebut sebagai pembelajaran berkarya. Pembelajaran berkarya seni mengandung dua aspek kompetensi,yaitu keterampilan dan kreativitas. Dilembaga PAUD, keterampilan lebih difokuskan pada pengalaman eksplorasi untuk melatih kemampuan sensorik dan motorik anak,bukan untuk menjadikan anak mahir atau ahli di bidang seni. Sedangkan kreatifitas,meliputi ranah kognitif,afektif,dan psikomotorik yang terlihat dari produk atau hasil karya dan proses dalam menyibukkan diri secara kreatif.
B.SARAN
Seorang guru harus kreatif merancang kegiatan seni yang menyenangkan agar dapat menarik perhatian anak dan memperhatikan faktor keterlibatan anak dalam proses pembelajarannya.
Guru dapat memanfaatkan kegiatan seni untuk menyalurkan gagasan anak,perasaan anak dan pengalaman berkomunikasi dengan orang lain.
DAFTAR PUSTAKA
Novi Mulyani,Pendidikan Seni Tari Anak Usia Dini,Yogyakarta,Gava Media,2016
Nanang Ganda Prawira,Seni Rupa dan Kriya,Bandung,PT SARANA TUTORIAL NURANI SEJAHTERA,2017
https://www.scribd.com/doc/46923235/Makalah-Metode-Pengembangan-Seni-Rupa-Bagi-Anak-Usia-Dini
(diakses pada tanggal 26 Oktober 2017,20:13 WITA)
http://yulianaindras.blogspot.co.id/2014/10/seni-rupa-untuk-anak-usia-dini.html
(diakses pada tanggal 26 Oktober 2017,20:15 WITA)
http://luhputulestariani.blogspot.co.id/2017/06/kurikulum-seni-rupa-anak-usia-dini.html
(diakses pada tanggal 26 Oktober 2017,20:16 WITA)
http://yulianaindras.blogspot.co.id/2014/10/seni-rupa-untuk-anak-usia-dini.html
(diakses pada tanggal 02 Desember 2017 Pukul 20:30 WITA)
Komentar
Posting Komentar